Nisluf Blog

Ilmu adalah Pengetahuan tetapi Pengetahuan belum tentu menjadi ilmu

Thursday, 16 August 2018

JANGAN SALAH MELETAKKAN "CINTA"

 

Bagi sobat apa sih arti cinta? Bagaimana wujud cinta itu? apakah dengan kasih dan sayang sudah cukup dikatakan cinta?

Nah.. dalam Islam sebuah nasehat kebaikan adalah cinta. Mengapa? karena kita tak mau kalau orang yang kita sayang dan kasihi berada dan melakukan sesuatu  yang dalam agama itu dilarang. yaaah begitulah cinta adalah nasehat.

AsySyaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata :

"Setiap orang yang berbuat baik kepadamu, terlebih dalam urusan agama, nasehat dan amar ma'ruf nahi munkar, mengharuskan dirimu untuk mencintai dan menyukainya."

"Berbeda dengan tingkah laku sebagian orang dewasa ini. Jika engkau perintahkan dia untuk berbuat baik, engkau cegah dari yang mungkar, engkau dakwahi kepada yang baik dan engkau bimbing kepada petunjuk, terkadang hatinya justru benci kepadamu."

"Perbuatan ini menyelisihi akal dan agama".

(Syarh Iqtidlais Shirathil Mustaqim hal: 279)

Terus Terang dan Menasihati

 Ketika berteman dengan orang-orang yang baik, seseorang terkadang mendapatkan nasihat yang keras.

Akan tetapi, ketika bersahabat dengan orang orang yang buruk, dia akan sering mendapatkan basa basi dan sanjungan.

Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Malik bin Dinar ketika mengatakan :

إِنَّك إِنْ تَنْقُلِ الْحِجَارَةَ مَعَ الْأَبْرَارِخَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَأْكُلَ الْحَلْوَى مَعَالْفُجَّارِ

“Sungguh, engkau memindahkan batu bersama orang orang yang baik, itu lebih baik daripada engkau memakan manisan bersama orang orang yang Buruk.”

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan :

“Sulit didapatkan pada masa ini seorang teman yang memiliki sifat ini (terus terang dan menasihati). 

"Sebab Jarang sekali ada kawan yang memberikan sanjungan, justru memberi tahu kekurangan."

Dahulu salaf mencintai orang yang mengingatkan mereka tentang berbagai kekurangan mereka.

Adapun kita sekarang, biasanya menjadikan orang yang mengetahui kekurangan kita sebagai orang yang paling dibenci."

"Ini adalah tanda lemahnya iman.”

(Mukhtashar Minhajil Qashidin hlm. 147)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :

“Saudaramu ialah yang menasihati, mengingatkan dan memperingatkan dirimu.
 
"Orang yang tidak memerhatikanmu, berpaling darimu, dan berbasa basi denganmu, bukanlah saudaramu."
 
"Saudaramu yang sejati ialah orang yang menasihatimu, memberimu wejangan, mengingatkanmu dan mengajakmu kepada jalan Allah ‘azza wa jalla."
 
"Ia menjelaskan kepadamu jalan keselamatan sehingga engkau bisa menitinya."
 
"Selain itu, dia memperingatkanmu dari jalan kebinasaan dan akibat buruknya sehingga engkau bisa menjauhinya.”

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 21/14)

Wallahu a'lam

Sumber :  GROUP online Tholabul'ilmi 

Sunday, 12 August 2018

CONTOH TUGAS TEKS CERAMAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM



Assalaamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Wassholatu Wassalamu ‘Ala Nabiyina Muhammadin Wa ‘Ala Alihi Wasobbihi Ajmain ‘Amma Ba’du.

Yang saya hormati guru mata pelajaran pendidikan agama Islam

Dan teman-teman yang saya sayangi

Pertama, pada kesempatan yang penuh berkah ini, saya mengajak teman-teman sekalian, untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT., yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayahnya kepada kita. Sehingga pada detik ini, kita masih bisa merasakan nikmatnya hidup dan kehidupan dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama Islam. Shalawat dan salam tak lupa, kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Nabi akhiruzzaman, teladan ummat manusia didalam menjalani kehidupan.

Teman-teman yang saya kasihi,

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan sebuah ceramah yang berjudul “Mengenal Lebih Dekat Sosok Rasulullah Saw.”. Alhamdulillah Allah SWT telah memberikan hidayah kepada kita untuk lebih mengenal Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Berkat beliaulah kita bisa merasakan cahaya Islam. Berkat beliau kita bisa memperoleh petunjuk dan kebenaran. Rasullullah sangat mencintai ummatnya. Rasulullah kelak akan memberikan syafaat, dan pertolongan kepada ummatnya yang dikehendaki. Pada zaman modern ini, banyak orang yang mengaku sebagai muslim atau muslimah namun belum mengetahui bagaimana sosok pribadi Rasulullah Saw. Mereka cenderung lebih mengenal sosok pribadi idola atau artis yang mereka kagumi dibandingkan sosok Rasulullah Saw. Uraian beberapa hadits mengenai penampilan fisik Rasulullah Saw.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah (perawakannya) tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek, tidak putih sekali (kulitnya) juga tidak kecoklatan. Beliau rambutnya tidak keriting pekat, juga tidak lurus menjurai. Allah Azza wa Jalla mengutusnya pada usia empat puluh. Beliau tinggal di Mekah selama sepuluh tahun dan di Madinah selama tiga belas tahun. Allah Azza wa Jalla mewafatkannya pada usia enam puluh tahunan , dan uban beliau tidak mencapai dua puluh helai di kepala ataupun jenggot beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [al-Mukhtashar hadits no. 1] 

Anas Radhiyallahu anhu juga berkata: “Rasulullah memiliki postur sedang, tidak tinggi ataupun pendek, dan fisiknya bagus. Rambut beliau tidak keriting juga tidak lurus. Warna (kulitnya) kecoklatan, jika beliau berjalan, berjalan dengan tegak”. [al-Mukhtashar hadits no. 2] 

Barâ` bin ‘Azib berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lelaki yang berambut ikal, berpostur sedang, bahunya bidang, berambut lebat sampai cuping telinga dan beliau memakai kain merah. Aku belum pernah melihat orang yang lebih tampan dari beliau”. [al-Mukhtashar hadits no. 3]
 
Dalam riwayat lain, Barâ` Radhiyallahu anhu berkata: “Aku belum pernah melihat orang yang mengenakan kain merah yang lebih tampan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau mempunyai rambut yang menjulur sampai pundaknya. Bahu beliau lebar dan beliau bukan orang yang bertubuh pendek, ataupun terlalu tinggi”.

‘Ali bin Abi Thâlib bercerita: “Nabi bukanlah orang yang tinggi, juga bukan orang yang pendek. Kedua telapak tangan dan kaki beliau tebal. Kepala beliau besar. Tulang-tulang panjangnya besar. Bulu-bulu dadanya panjang. Jika berjalan, beliau berjalan dengan tegak layaknya orang yang sedang menapaki jalan yang menurun. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum atau setelahnya”. [al-Mukhtashar hadits no. 4] 

Jâbir bin Samurah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah dhalî’ul fami, asykalul ‘ain dan manhûsul ‘aqib“. Syu’bah berkata: Aku bertanya kepada Simak: “Apa maksud dhalî’ul fami?: Ia menjawab: “Mulut beliau besar”. Aku bertanya: “Apa maksud asykalul ‘ain?” Ia menjawab: “Sudut mata beliau lebar”. Aku bertanya: “Apakah maksud manhûsul ‘aqib?. Ia menjawab: “Daging pada tumit beliau sedikit.” [al-Mukhtashar hadits no. 7] 

Jâbir Radhiyallahu anhu juga berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam purnama, beliau mengenakan kain merah. Aku mulai memandang beliau dan bulan, ternyata beliau lebih indah dibandingkan bulan”. [al-Mukhtashar hadits no. 8] 

Abu Ishâq Radhiyallahu anhu berkata: “Ada seorang lelaki bertanya kepada Barâ` bin Azib : “Apakah wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti pedang?” Ia menjawab: Tidak, tetapi seperti bulan.”” [al-Mukhtashar hadits no. 9] 

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah berkulit putih bagaikan disepuh oleh perak, rambutnya agak bergelombang/ikal”. [al-Mukhtashar hadits no. 10] 

Abu Ath-Thufail Radhiyallahu anhu berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak seorang pun yang tersisa di muka bumi ini yang pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selainku”. “Beliau berkulit putih, tampan, (dengan perawakan) sedang”. [al-Mukhtashar hadits no. 12]
Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata: “Rambut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tengah atau (dalam riwayat lain: pertengahan) kedua telinga beliau”. [al-Mukhtashar hadits no. 21]
‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: “Aku mandi bersama Rasulullah dari satu bejana. Beliau mempunyai rambut yang sampai pundak dan (juga) hingga cuping telinga”. [al-Mukhtashar hadits no. 22] 

-    Bahan Rujukan Beberapa Hadits Diatas adalah : 

1. Mukhtashar asy-Syamâil al-Muhammadiyyah Imam at-Tirmidzi, Muhammad Nâshiruddin al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyâdh, cetakan III tahun 1422H.

2. Asy-Syamâil Muhammadiyyah, Imam at-Tirmidzi tahqîq Muhammad ‘Awwâmah Dârul Minhâj Cet. II Thn 1428H.

Teman-teman yang saya cintai,

Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak dan sifat-sifat yang sangat mulia seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 dan beberapa hadits berikut :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." [Al Ahzab : 21].

Aisyah Ra. berkata : “Beliau (Rasulullah) adalah orang yang paling mulia akhlaknya tidak pernah berlaku keji, tidak pula mengucapkan kata-kata kotor, tidak berbuat gaduh di pasar, dan tidak pernah membalas dengan kejelekan serupa, akan tetapi beliau pemaaf dan pengampun.” (HR. Ahmad)

Abu Hurairah Ra. berkata : “ Beliau (Rasulullah) adalah seorang yang panjang kedua legannya, lentik alisnya, kedua matanya lebar, dan diantara kedua pundaknya kekar dari depan dan belakang. Demi bapak dan ibuku, sungguh beliau tidak pernah berbuat keji dan tidak pula berkata keji, dan beliau juga tidak pernah mengeraskan suaranya di tempat umum.” (HR. Ahmad)

“Belum pernah aku meyaksikan orang yang lebih baik dari Rasulullah, seakan-akan mentari berjalan di wajah beliau. Dan belum pernah aku melihat orang yang jalannya lebih cepat dari Rasulullah, seakan-akan bumi dilipat untuk beliau.” (HR. Tirmidzi)

Ali Ra. berkata : “Beliau (Rasulullah) adalah pamugkas para Nabi, orang yang paling dermawan, paling lapang dada, paling benar tutur katanya, paling komitmen dengan janjinya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, siapapun yang memandangnya dengan tiba-tiba pasti akan segan kepadanya, siapapun yang bergaul dengannya secara dekat pastilah mencintainya. Aku belum pernah melihat orang eperti beliau sebelum dan sesudahnya.” (HR. Tirmidzi)
Sahabat-sahabat sekalian yang saya muliakan,

Berdasarkan uraian-uraian yang saya sampaikan, dapat kita lihat gambaran sosok pribadi Rasuullah Saw. lebih dekat. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat dan menjadi pembelajaran untuk kita semua terutama bagi diri saya pribadi, dan semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih mencintai Rasul dan senantiasa taat dan istiqamah dalam menjalankan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim dan muslimah. 

Demikian ceramah agama yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan, yang benar datangnya atas bimbingan Allah SWT Yang Maha Benar, dan yang salah, khilaf, atau keliru itu datangnyadari saya pribadi sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.

Akhirul kalam, subhanakallahu maa wabihamdika, asyhadu allaa ilaaha anta, astaghfiruka wa atuubu ialaih. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Sumber tugas :

Nama : Nur Fadillah
Kelas : XI. IPS. 3
Tugas Agama : Teks Ceramah

Sumber gambar : cdn.popbela.com

Wallahu a'lam...

Wednesday, 8 August 2018

HANYA DIMILIKI CEWEK YANG DEKAT DENGAN AYAHNYA, KUALITAS INI TERMASUK KAMU??


Ayah adalah sosok super hero.. bagaimana tidak dengan penuh tanggungjawab ia mendidik anak-anaknya dalam kasih sayang yang berbeda dengan sosok seorang ibu. 

Ada pepatah mengatakan "ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan". Yaaah... pepatah ini memang benar keadaannya. 

Ayah memberikan cinta yang berbeda, jadi tak heran jika seorang perempuan yang dekat dengan Ayahnya akan memiliki kualitas berikut ini.

1. MEMILIKI CINTA YANG BERBEDA

Sobat  berbeda dengan kasih sayang dari Ibu, seorang anak perempuan akan mempraktekan bagaimana kasih sayang Ayahnya yang ia dapatkan dimasa kecilnya. 

2. TAK BANYAK MENGUNGKAPKAN NAMUN BANYAK MENUNJUKKAN

Salah satu karakter yang unik pasalnya kita sering mendapatkan kata-kata manis dari sosok Ibu dan perlakuan hangat dari Ayah. 

Meskipun Ayah jarang berada dirumah karena seharian bekerja membuktikan bahwa ia adalah orang tua yang bertanggungjawab dan baik.

Jadi, jangan heran yah jika perempuan yang dekat dengan Ayahnya tidak pandai bermain kata romantis, dia cenderung fokus untuk lebih menunjukkan rasa sayangnya.

3. TIPE YANG SETIA PADA SATU ORANG

Nah... perempuan yang dekat dengan Ayahnya memiliki tipe ini, yah sangat setia pada satu lelaki. Karena, mereka tidak suka berganti pasangan. 

Terkadang pria pilihannya mengingatkannya pada sosok seorang Ayah maka, menyakiti atau berganti pasangan adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan dalam sebuah hubungan.

4. MUDAH MEMAHAMI KARAKTER LELAKI

Nah ini dia yang bikin greget wkwkkwkw... 

Perempuan yang memiliki kualitas ini secara tidak langsung akan lebih mudah memahami karakter pria dari Ayahnya. 

Maka, ia akan mudah mengerti  tanpa memaksa apa yang menjadi kehendaknya dan akan lebih mudah bagaimana ia memperlakukan kekasihnya karena sudah terbiasa ketika bersama dengan Ayahnya.

5. MEMILIKI SIFAT MANJA DAN MANDIRI 

Manja dan Mandiri hanya dimiliki perempuan yang satu ini. Manis dan penurut begitulah kira-kira. Bagaimana tidak dia sudah diajari sejak kecil oleh Ayahnya untuk menjadi sosok yang tangguh dan mandiri, namun disis lain dia memiliki sifat manja yang dirindukan kekasihnya. ehehhe..


Hayooo.... gimana girls kamu punya kualitas diatas?

semoga bermanfaat yah..

Wallahu a'lam..

Sumber bacaan : IDN Times (dengan sedikit penyesuaian)

 

BAGAIMANA CARA MEMBUANG MUSHAF AL QUR'AN YANG RUSAK?


 Sering kali kita menemukan tulisan-tulisan Al-Qur'an dalam buku catatan kita sendiri bukan? 
Nah.. mari kita simak penjelasan berikut ini :

Dahulu ‘Utsman bin ‘Affan  membakar mushaf-mushaf yang tidak lagi diperlukan.

Salah satu saksi sejarah, Mus’ab bin Sa’d mengatakan :

أدركت الناس متوافرين حين حرق عثمان المصاحف ، فأعجبهم ذلك ، لم ينكر ذلك منهم أحد

"Ketika Utsman membakar mushaf, saya menjumpai banyak sahabat dan sikap Utsman membuat mereka heran. Namun tidak ada seorangpun yang mengingkarinya"
 
(HR. Abu Bakr bin Abi Daud, dalam al-Mashahif, hlm. 41).

Perintah Utsman untuk membakar kertas mushaf ketika beliau mengumpulkan Alquran, menunjukkan bolehnya membakar kitab yang disitu tertulis nama nama Allah ta’ala. Dan itu sebagai bentuk memuliakan nama Allah dan menjaganya agar tidak terinjak kaki atau terbuang sia- sia di tanah.

(Syarh Shahih Bukhari, 10:226)

As Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulumul Qur’an dijadikan sebagai dasar diperbolehkannya membakar mushaf yang rusak.

Ia berpandangan, bila lembaran-lembaran itu rusak maka tidak boleh hanya diselamatkan dengan meletakkan di tempat tertentu. Hal ini dikhawatirkan jatuh dan akan terinjak.

Opsi menyobek juga kurang tepat.

Pasalnya, sobekan masih menyisakan beberapa huruf atau kalimat. Ini bisa lebih fatal akibatnya.
Dibakar? Solusi ini jauh lebih baik, menurutnya. Tindakan sama yang dilakukan oleh Utsman.

Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah) dalam kompilasi fatwanya menyebutkan, mushaf yang tak lagi terpakai, kitab, dan kertas-kertas dimana tertulis ayat-ayat Al-quran maka hendaknya dikubur di tempat yang layak, jauh dari lalu lintas manusia atau lokasi yang menjijikkan.

Opsi lain yang bisa ditempuh ialah dibakar. Hal ini sebagai bentuk penghormatan dan menghindari perendahan Al-quran.

Baik yang menyarankan dikubur atau dibakar, keduanya memiliki alasan yang kuat.

Yang lebih tepat adalah memilih cara yang paling efektif, yang paling cepat menghilangkan hurufnya dan paling aman dari sikap tidak hormat.

Ibnu Utsaimin mengatakan :

التمزيق لابد أن يأتي على جميع الكلمات والحروف ، وهذه صعبة إلا أن توجد آلة تمزق تمزيقاً دقيقاً جداً بحيث لا تبقى صورة الحرف..
 
"Menghancurkan mushaf harus sampai lembut, sehingga hancur semua kata dan huruf. Dan ini sulit, kecuali jika ada alat untuk menghancurkan yang lembut, sehingga tidak ada lagi tulisan huruf yang tersisa"

(Fatawa Nur ala ad-Darbi, 2:384).

Wallahu a'lam..

Sumber: Kajian Online WA Tholabuli'lmi

Tuesday, 7 August 2018

BERTAHAN SHALAT ATAU MENYELAMATKAN DIRI SAAT GEMPA??? BERIKUT PENJELASANNYA


Apa yang harus kita lakukan saat sedang shalat namun tiba-tiba gempa? atau banjir? atau kebakaran? apakah kita wajib melanjutkan shalat atau membatalkan shalat dan lari menyelamatkan diri?

Nah... oleh karena itu terdapat kaidah umum yang disampaikan para ulama fiqh.

Kaidah itu menyatakan :

دَرْءُ المَفَاسِد أَولَى مِن جَلبِ المَصَالِح
Menghindari Mafsadah (potensi bahaya) lebih didahulukan dari pada mengambil Maslahat (kebaikan).

Dalam banyak literatur yang membahas qawaid fiqh, kaidah ini sering disebutkan.

Diantara dalil yang mendukung kaidah ini adalah firman Allah :

ولا تَسُبُوا الَّذِينَ يَدْعُونَ من دوُنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Janganlah kamu memaki tuhan tuhan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. al-An’am: 108)

Syaikh Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu menjelaskan kandungan makna ayat ini
:

Memaki tuhan orang kafir ada maslahatnya, yaitu merendahkan agama mereka dan tindakan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala.

Namun ketika perbuatan ini menyebabkan potensi bahaya, yaitu mereka membalas makian, dengan menghina Allah, maka Allah melarang memaki tuhan mereka, sebagai bentuk untuk menghindari potensi bahaya.

(al-Wajiz fi Idhah Qawaid Fiqh, hlm. 265).

Karena pertimbangan inilah, pelaksaan kewajiban yang sifatnya muwassa’ (waktunya longgar), harus ditunda untuk melakukan kewajiban yang waktunya terbatas.

Shalat wajib termasuk wajib muwassa’ (waktunya longgar).

Shalat isya rentang waktunya sejak hilangnya awan merah di ufuk barat, hingga tengah malam. Sehingga, kalaupun seseorang tidak bisa menyelesaikan di awal malam, dia bisa tunda di waktu setelahnya.

Sementara menyelamatkan nyawa juga kewajiban. Karena secara sengaja berdiam di tempat yang berbahaya, hukumnya haram.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.”

(HR. Imam Ahmad 2863, Ibnu Mâjah 2341 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Ketika terjadi gempa, sementara posisi kita sedang shalat, di sana terjadi pertentangan antara maslahat dengan mafsadah.

Mempertahankan shalat, itu maslahat, sehingga jamaah bisa segera menyelesaikan kewajibannya.
Namun di sana ada potensi bahaya, karena jika bangunan itu roboh, bisa mengancam nyawa jamaah.
Mana yang harus didahulukan?

Kaidah di atas memberikan jawaban, menghindari potensi bahaya lebih didahulukan, dari pada mempertahankan maslahat. Apalagi shalat termasuk kewajiban yang waktunya longgar.

Pertimbangan lainnya adalah Maqasid As Syari’ah (tujuan besar adanya syariah), diantaranya menjaga keselamatan jiwa. Sehingga bertahan shalat, sementara orang itu  sudah tahu bahwa gempa ini berpotensi menghilangkan nyawa, maka tindakannya bertentangan dengan Maqasid as-Syariah.
Wajib Menyelamatkan Nyawa dengan Membatalkan Shalat

Karena itulah, para ulama menegaskan wajib mendahulukan penyelamatan nyawa, dari para shalat wajib. Kita simak keterangan mereka,

1. Keterangan Hasan bin Ammar al-Mishri – ulama Hanafiyah.
فيما يوجب قطع الصلاة وما يجيزه وغير ذلك…  يجب قطع الصلاة باستغاثة ملهوف بالمصلي

Penjelasan tentang apa saja yang mewajibkan orang untuk membatalkan shalat dan apa yang membolehkannya. wajib membatalkan shalat ketika ada orang dalam kondisi darurat meminta pertolongan kepada orang yang shalat.
(Nurul Idhah wa Najat al-Arwah, hlm. 75)

2. Keterangan al-Izz bin Abdus Salam ulama Syafi’iyah – wafat 660 H.

Dalam kitabnya Qawaid al-Ahkam, beliau menjelaskan :


Harus mendahulukan upaya penyelamatan orang yang tenggelam, dari pada pelaksanaan shalat.
Karena menyelamatkan nyawa orang yang tenggelam, lebih afdhal di sisi Allah dibandingkan melaksanaan shalat. Disamping menggabungkan kedua maslahat ini sangat mungkin, yaitu orang yang tenggelam diselamatkan dulu, kemudian shalatnya diqadha.
(Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, 1/66).

Beliau berbicara tentang penyelamatan nyawa orang lain. dia didahulukan dibandingkan pelaksanaan shalat wajib. Tentu saja, menyelamatkan diri sendiri harus didahulukan dibandingkan shalat.

3. Keterangan al-Buhuti  ulama hambali – (wafat 1051 H),

Wajib menyelamatkan orang tenggelam atau korban kebakaran, sehingga harus membatalkan shalat, baik shalat wajib maupun sunah. Dan yang kami pahami, aturan ini berlaku meskipun waktunya pendek. Karena shalat tetap bisa dilakukan dengan cara qadha, berbeda dengan menolong orang tenggelam atau semacamnya. Jika dia tidak mau membatalkan shalatnya untuk menyelamatkan orang yang tenggelam atau korban lainnya, maka dia berdosa meskipun shalatnya sah.
(Kasyaf al-Qi’na, 1/380).

Mereka mewajibkan membatalkan shalat untuk menyelamatkan nyawa satu orang yang sedang terancam. Sementara sikap imam yang mempertahankan diri, bisa membahayakan nyawanya dan nyawa sekian banyak makmum.

Bukankah lebih layak untuk segera dibatalkan..?


Karena itulah, bagi mereka yang sedang shalat jamaah, kemudian terjadi gempa, sikap yang tepat bukan bertahan shalat namun segera dibatalkan. Karena ini potensi bahaya yang seharusnya dihindari. Terlebih, shalat bisa ditunda setelah situasi memungkinkan.

Wallahu a'lam..

Sumber :

Group Kajian online WA Tholabul'ilmi 

konsultasisyariah.com

YAKIN AJA DULU .. USAHA AJA DULU

Ketika seseorang mulai melihat kedepan dan meninggalkan masa lalu sebagai pengalaman dan guru masa depan maka, tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan di dunia ini.

Setiap manusia tentu memiliki keyakinan dalam hal apapun, yakin yang paling utama yah harus kepada Tuhan yang menciptakannya, kemudian yakin dengan apa yang ia usahakan de el el... 
Nah, ketika sobat menyakini sesuatu maka, InsyaAllah apa yang sobat usahakan akan berhasil, karena hasil merupakan cerminan dari apa yang sobat usahakan.

Meskipun, ketika usaha yang sobat lakukan tidak berhasil alias gagal maka, coba berpikir sesaat dan merenungi mengapa itu terjadi? mencari kesalahan membuat sobat belajar agar tak gagal untuk usaha yang berikutnya.

Sebenarnya banyak sih contoh nyata yang terjadi disekeliling kita saat ini, contohnya tukang becak bisa naik haji dengan menabung 500 rupiah setiap hari selama 10 tahun, coba deh bayangin betapa yakinnya dia dengan usaha yang ia lakukan saat itu.

Ketika yakin bahwa Tuhan selalu bersama kita dalam kondisi apapun percayalah tak ada yang tak mungkin untuk apa yang kita usahakan. Jika gagal maka pelajari kesalahan itu dan mulai mencari cara lain untuk langkah selanjutnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam kenikmatan dan kesejahteraan, sehingga mereka merubahnya sendiri. Juga tidak merubah suatu kaum yang hina dan rendah, kecuali mereka merubah keadaan mereka sendiri. 
Yaitu dengan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarnya kepada kemulian dan kejayaan. Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Ar-Ra’d/13:11).

Sudah jelas bukan? yakin aja dulu.. usaha aja dulu hasil mah ngikut... hehehe dalam hal apapun baik itu usaha untuk berjodoh, usaha untuk mendapatkan rejeki, de el el InsyaAllah semoga Allah memberikan kepada kita jalan kemudahan. aamiin

So positif thinking aja sertakan dalam usaha dan doa, jangan biarkan kekhawatiran kita hari ini berdampak di hari esok.

Semoga bermanfaat ..

Wallahu a'lam..

Sumber bacaan: 

Line :  Bacaan Islami
https://almanhaj.or.id/3889-pelajaran-dari-umat-terdahulu-1.html

Monday, 6 August 2018

BAGAIMANA JIKA WANITA HAID SEBELUM MANDI JUNUB? BERIKUT PENJELASANNYA




Banyak hal yang harus kita pelajari, yah begitulah manusia dituntut untuk menuntut ilmu agar mengetahui hal kecil apapun dalam menjalani hari-harinya sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan.

 Ketika membahas ini itu umat muslim diberi petunjuk untuk mengikuti ajaran Islam. Sebagai seorang wanita tentu kita harus mengetahui bagaimana jika haid namun belum mandi junud. Silahkan disimak.. semoga bermanfaat.

Nah.... Ada 2 penyebab hadats besar dalam kondisi seperti ini yaitu:

1. Hadats besar karena junub;

2. Hadats besar karena haid.

Dan 2 hadats besar ini rentang masanya berbeda.


- Hadats karena junub bisa diselesaikan ketika orangnya mandi, Sehingga kembali kepada keinginan pelaku. 

- Sementara hadats karena haid tidak bisa diselesaikan kecuali sampai darahnya berhenti.
Dan ini bisa jadi di luar keinginan dan kendali pelaku.
Apakah wanita ini wajib mandi 2 kali ?

Para ulama menegaskan, wanita ini tidak wajib mandi dua kali.

Dia boleh mandi sekali, setelah haidnya berhenti dan itu mencukupi untuk kedua sebab hadats besar yang dia alami.

Imam as Syafi’i dalam al Umm menyatakan :
"Ketika wanita junub, lalu mengalami haid sebelum mandi junub, dia tidak wajib untuk mandi junub selama masa haid. Karena fungsi mandi bisa menyebabkan orang menjadi suci, sementara dia tidak bisa suci dengan mandi junub, Sementara dia dalam kondisi haid. Jika haidnya telah selesai, dia boleh mandi sekali". (al-Umm, 1/45).

Keterangan lain disampaikan Ibnu  Qudamah :


إذا كان على الحائض جنابة، فليس عليها أن تغتسل حتى ينقطع حيضها، نص عليه أحمد وهو قول إسحاق، وذلك لأن الغسل لا يفيد شيئاً من الأحكام
"Jika wanita haid mengalami junub, dia tidak wajib untuk mandi sampai haidnya berhenti".

Demikian yang ditegaskan Imam Ahmad, dan ini juga pendapat Ishaq bin Rahuyah. Karena mandi ketika haid tidak memberikan pengaruh hukum sama sekali.
(al-Mughni, 1/241)

Artinya, hadats besarnya tidak hilang

Apakah hadats besar karena sebab junubnya bisa hilang?

Imam Ahmad menegaskan :

" Sebab junubnya bisa hilang dengan mandi junub, meskipun dia masih haid."

Ibnu Qudamah mengatakan :

"Jika ada orang mandi junub di masa sedang haid, hukum mandinya sah, dan hilang status status junubnya".

Demikian yang ditegaskan Imam Ahmad. Beliau mengatakan,  “Junubnya hilang, sementara haidnya tidak hilang sampai darah berhenti.”

Beliau juga mengatakan: 

“Saya tidak tahu adanya ulama yang mengatakan, ‘Jangan mandi.’ Selain Atha’, dan diriwayatkan dari beliau bahwa beliau juga mengajarkan untuk mandi.” (al-Mughni, 1/154)

Wallahu a'lam..

Sumber : Group online WA Tholabul'ilmi.

 Gabung Komunitas Tholabul'ilmi :
Ketik : GabungTI#Nama#Domisili#Status#
L/P
Kirim ke:
~ Ukh Susan Anisya :
+6285374450956
~ Ukh Petty Nusaybah :
+6285266812579
  
Gambar : www.kumpulpedia.com